Rabu, 15 April 2026 09:16 WIB
13 |
-

Aku punya satu kebiasaan buruk.
Aku jarang bilang apa yang sebenarnya aku rasakan.
Di sekolah, aku dikenal sebagai orang yang santai. Yang selalu ketawa, yang gampang diajak ngobrol, yang kayaknya gak pernah punya masalah.
Padahal kenyataannya… ya sama aja.
Aku juga capek.
Aku juga overthinking.
Aku juga sering ngerasa sendirian.
Cuma bedanya, aku gak pernah bilang.
Ada satu orang yang paling dekat sama aku.
Namanya Sera.
Dia tipe orang yang cerewet, gampang ketawa, dan selalu punya cerita setiap hari.
“Kamu kenapa sih sering diem?” tanyanya suatu hari.
Aku cuma angkat bahu. “Gapapa.”
Padahal jelas-jelas ada apa-apa.
Sera itu kebalikan dari aku.
Kalau dia sedih, dia cerita.
Kalau dia marah, dia ngomong.
Kalau dia seneng, dia juga langsung nunjukin.
Sedangkan aku?
Aku simpen semuanya sendiri.
Suatu hari, Sera marah sama aku.
“Capek tau gak sih!” katanya tiba-tiba.
Aku kaget. “Hah? Kenapa?”
“Karena kamu gak pernah jujur!”
Aku terdiam.
Dia lanjut, “Aku cerita banyak ke kamu, tapi kamu gak pernah cerita balik. Aku jadi ngerasa kayak gak dipercaya.”
Aku pengen jawab.
Pengen banget bilang kalau sebenarnya aku percaya sama dia.
Pengen bilang kalau aku cuma takut buat bilang.
Tapi lagi-lagi, yang keluar cuma satu kata.
“Gapapa.”
Sejak hari itu, Sera mulai menjauh.
Ya emang, dia masih ngobrol sama aku.
Masih ketawa, Tapi rasanya beda.
Kayak ada jarak yang gak keliatan.
Sampai suatu hari, aku lihat dia duduk sama orang lain.
Ketawa, Cerita.
Persis kayak dulu waktu sama aku.
Dan entah kenapa…
itu lebih sakit dari yang aku kira.
Malamnya, aku coba mau chat Sera.
Aku ketik, "Maaf ya."
Aku hapus. Aku ketik lagi, "Aku sebenernya...". Aku hapus lagi.
Ujung-ujungnya,
aku gak kirim apa-apa.
Hari-hari terus berlalu,
Dan aku mulai sadar satu hal.
Kadang, kehilangan itu bukan karena orangnya pergi.
Tapi karena kita terlalu lama diam.
Sampai akhirnya, di suatu pagi yang biasa aja, aku duduk sendirian di kelas.
Sera masuk.
Dia lihat aku.
Aku lihat dia.
Hening.
Beberapa detik yang terasa lama banget. Dan untuk pertama kalinya, aku maksa diri aku buat ngomong.
“Sera.”
Dia berhenti.
“Iya?”
Aku menelan ludah.
Jantungku berdebar kencang banget.
“Tolong, dengerin aku bentar, ya?.”
Dia gak langsung jawab, tapi dia juga gak langsung pergi.
“Aku bukan gak percaya sama kamu,” kataku pelan.
“Aku cuma gak biasa cerita.”
Suaraku mulai bergetar.
“Tapi bukan berarti aku gak butuh kamu.”
Sera diam.
Aku lanjut, walaupun rasanya sesak banget.
“Aku takut dibilang lebay. Takut gak dimengerti. Jadi aku pilih diem.”
Aku tarik napas.
“Tapi ternyata sikap aku itu malah bikin kamu pergi.”
Hening lagi, tapi kali ini lebih lama.
“Aku juga salah,” jawab Sera.
“Aku maksa kamu buat jadi kayak aku.”
Aku menatap dia.
Dia juga menatap aku.
“Mulai sekarang,” katanya, “kamu gak harus cerita semuanya.”
“Tapi jangan bilang ‘gapapa’ terus.”
Aku ketawa kecil.
“Deal.”
Sejak hari itu, aku masih belum jadi orang yang gampang cerita.
Aku masih sering ragu.
Masih sering takut.
Tapi setidaknya sekarang,
aku gak selalu diam.
Karena ternyata, ada banyak hal dalam hidup yang hilang hanya karena kita tidak pernah bilang
Ditulis dan dibuat oleh Marcheline Femysari